001. (Demi yang berlari
kencang) di dalam perang, yaitu kuda yang lari dengan kencangnya di dalam
peperangan (dengan terengah-engah) lafal Adh-Dhabhu artinya suara napas kuda
sewaktu berlari kencang.
002. (Dan demi yang
mencetuskan api) maksudnya kuda yang memercikkan api (dengan pukulan) teracak
kakinya apabila ia berlari di tanah yang banyak batunya pada malam hari.
003. (Dan demi yang
menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi) yaitu kuda yang menyerang musuh di
waktu pagi, karena pengendaranya melakukan penyerbuan di waktu tersebut.
004. (Maka ia
menerbangkan) atau mengepulkan (di waktu itu) di waktu tersebut, atau di tempat
ia berlari (debu) karena gerakannya yang sangat keras.
005. (Dan menyerbu dalam
kepulan debu ke tengah-tengah) artinya dengan membawa kepulan debu (kumpulan
musuh) yang diserangnya; maksudnya kuda-kuda tersebut berada di tengah-tengah
musuh dalam keadaan menyerang. Lafal Fawasathna yang kedudukannya sebagai Fi'il
di'athafkan kepada Isim, karena mengingat bahwa semua Isim yang di'athafkan
kepadanya mengandung makna Fi'il pula. Yakni demi yang berlari kencang, lalu
mencetuskan api, lalu menerbangkan debu.
006. (Sesungguhnya
manusia itu) yang dimaksud adalah manusia yang kafir (sangat ingkar kepada
Rabbnya) artinya ia mengingkari semua nikmat-Nya yang telah dilimpahkan
kepadanya.
007. (Dan sesungguhnya
manusia itu terhadap hal tersebut) terhadap keingkarannya (menyaksikan sendiri)
atau dia menyaksikan bahwa dirinya telah berbuat ingkar.
008. (Dan sesungguhnya
karena cintanya kepada kebaikan) maksudnya cinta atas harta benda (dia sangat
bakhil) artinya lantaran sangat mencintai harta, jadilah ia seorang yang amat
bakhil atau kikir.
009. (Maka apakah dia
tidak mengetahui apabila dibangkitkan) dibangunkan dan dikeluarkan (apa yang ada
dalam kubur) yakni orang-orang mati yang dikubur di dalamnya.
010. (Dan dilahirkan)
atau ditampakkan dan dikeluarkan (apa yang ada dalam dada) maksudnya, apa yang
tersimpan di dalam kalbu berupa kekafiran dan keimanan.
011. (Sesungguhnya Rabb
mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka) karena itu Dia akan
memberikan balasan kepada mereka atas kekafiran mereka. Di sini Dhamir diulangi
penyebutannya dalam bentuk jamak, hal ini tiada lain karena memandang segi makna
yang dikandung lafal Al-Insaan. Jumlah ayat ini menunjukkan pengertian Maf'ul
bagi lafal Ya'lamu; artinya sesungguhnya Kami akan memberikan balasan kepadanya
pada saat itu. Berta'alluqnya lafal Khabiirun kepada lafal Yaumaidzin memberikan
pengertian, bahwa hari itu adalah hari pembalasan, karena sesungguhnya Allah
selama-lamanya Maha Mengetahui.
Tag :
100. Qs. Al-'Aadiyaat
0 Komentar untuk "100. Qs. Al-'Aadiyaat : 1-11"